Rabu, 03 Oktober 2012

Artikel tentang Nasionalisme



Sebagai Kesadaran Berbangsa, Nasionalisme Tidak Akan Menghilang
Posted: Wed, 2010-05-19 15:18 — agung

http://ugm.ac.id/new/files/u9/IMG_0141_0.jpgBagi kalangan tertentu, keprihatinan terhadap semangat nasionalisme terkadang dipandang sebagai sikap konservatif. Namun, dalam konteks berbangsa, keprihatinan ini sesungguhnya sebuah fakta bahwa kredibilitas Pancasila memang sedang merosot dan pendidikan kewarganegaraan tidak populer lagi. "Sebab musababnya bisa bermacam-macam. Namun, hal yang patut kita pertanyakan, apakah fenomena ini mengindikasikan masa depan berbangsa kita sedang terancam?," kata M. As'ad Said Ali, Rabu (19/5), di Balai Senat UGM.
Wakil Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) ini mengatakan hal tersebut saat menjadi keynote speaker Sarasehan Pancasila bertema "Nasionalisme dan Pembangunan Karakter Bangsa". Dikatakannya bahwa sejak reformasi, masyarakat memang mengalami perubahan radikal.
 Reformasi dinilai telah mengantarkan bangsa Indonesia pada dunia baru yang sama sekali lain, terbuka dan liberal, di tengah sebuah arus yang disebut globalisasi. Ia tidak hanya mengubah selera dan gaya hidup satu masyarakat bangsa menjadi sama dengan bangsa lain, bukan hanya itu saja, tetapi juga menyatukan orientasi dan budaya menuju satu budaya dunia (world culture).
Penyatuan dan penyeragaman itu kian hari bahkan semakin intensif, massal, dan menyeluruh. Hal itu, menurut Said Ali, karena kontak kebudayaan bersifat fisik dan individual. "Sarananya adalah media komunikasi dan informasi yang bisa diakses oleh siapa pun dan di mana pun. Kontak kebudayaannya bersifat massal dan melibatkan sejumlah besar orang," tuturnya.
Dalam pandangan Said Ali, perkembangan dan pengaruh kapitalisme transnasional kian kokoh dan meluas menggantikan kapitalisme negara. Bahkan, dalam diplomasi internasional pun kini muncul yang disebut sebagai mikro-diplomasi. Semua perkembangan ini menegaskan negara bukan lagi satu-satunya entitas yang memungkinkan hubungan antarbangsa dapat terjadi. "Hubungan antarbangsa menjadi kian terbuka. Kelompok masyarakat, bahkan individu pun dapat melakukannya. Pertanyaannya, bagaimana nasib nasionalisme?," ujarnya dengan nada bertanya. Meski begitu, Said Ali masih memiliki sikap optimis terhadap nasionalisme. Sebagai sebuah kesadaran, nasionalisme tidak akan menghilang sepanjang nation state ada sebab hubungan keduanya ibarat tulang dan daging. Globalisasi memang merelatifkan batas antarnegara (borderless), mengubah selera dan gaya hidup satu masyarakat bangsa menjadi sama dengan bangsa lain, serta menyatukan orientasi budaya menuju satu budaya dunia (world culture). "Namun, itu sama sekali tidak akan menghilangkan nation state. Negara bangsa tetap dibutuhkan oleh setiap orang, sehebat apa pun arus globalisasi itu. Bahkan, oleh kaum eksil sekalipun karena seseorang mutlak memerlukan identitas politik dan sosial," tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Eksekutif UGM, Drs. Djoko Moerdiyanto, M.A., dalam sambutannya pembukaan sarasehan mengatakan UGM melalui Pusat Studi Pancasila ingin mengangkat semangat nasionalisme melalui empat pilar yang dimiliki, yaitu Majelis Wali Amanat, Pimpinan Universitas, Majelis Guru Besar, dan Senat Akademik. Bangsa Indonesia tampaknya membutuhkan sumbang pikir dari empat pilar ini guna memberikan kecerdasan kolektif. Dengan langkah itu diharapkan dapat mengangkat kesejahteraan dan memunculkan karakter unggul serta mampu menjunjung tinggi harkat martabat manusia. "Dari sarasehan ini, kami berharap muncul kesadaran dan kepedulian terhadap persoalan kebangsaan," ujar Djoko Moerdiyanto. (Humas UGM/ Agung)

 ·         Review
Bagi kalangan tertentu, keprihatinan terhadap semangat nasionalisme terkadang dipandang sebagai sikap konservatif. Namun, sebuah fakta bahwa kredibilitas Pancasila memang sedang merosot dan pendidikan kewarganegaraan tidak populer lagi.
 Reformasi dinilai telah mengantarkan bangsa Indonesia pada dunia baru yang sama sekali lain, terbuka dan liberal, di tengah sebuah arus yang disebut globalisasi. bukan hanya itu saja, tetapi juga menyatukan orientasi dan budaya menuju satu budaya dunia (world culture).
Penyatuan dan penyeragaman itu menurut Said Ali, karena kontak kebudayaan bersifat fisik dan individual.
Dalam pandangan Said Ali, perkembangan dan pengaruh kapitalisme transnasional menggantikan kapitalisme negara. Bahkan, kini muncul yang disebut sebagai mikro-diplomasi. Said Ali masih memiliki sikap optimis terhadap nasionalisme. Globalisasi memang merelatifkan batas antarnegara (borderless), menuju satu budaya dunia (world culture). "Namun, itu sama sekali tidak akan menghilangkan nation state. Negara bangsa tetap dibutuhkan oleh setiap orang, sehebat apa pun arus globalisasi itu. Bahkan, oleh kaum eksil sekalipun karena seseorang mutlak memerlukan identitas politik dan sosial," tambahnya.
Sekretaris Eksekutif UGM, Drs. Djoko Moerdiyanto, M.A., dalam sambutannya ingin mengangkat semangat nasionalisme melalui empat pilar yang dimiliki, yaitu Majelis Wali Amanat, Pimpinan Universitas, Majelis Guru Besar, dan Senat Akademik. Dengan langkah itu diharapkan dapat mengangkat kesejahteraan dan memunculkan karakter unggul serta mampu menjunjung tinggi harkat martabat manusia.

·         Persoalan
1.      Kredibilitas Pancasila merosot dan pendidikan kewarganegaraan tidak populer lagi.
2.      Reformasi mengantarkan bangsa Indonesia pada arus globalisasi menuju satu budaya dunia (world culture).
3.      Keinginan mengangkat semangat nasionalisme melalui empat pilar yaitu, Majelis Wali Amanat, Pimpinan Universitas, Majelis Guru Besar, dan Senat Akademik.
 
·         Solusi
Perlu adanya perhatian khusus dari semua kalangan, mengenai merosotnya kredibilitas Pancasila dan hilangnya minat tentang pendidikan kewarganegaraan. Jelas ini menjadi masalah yang cukup penting untuk masa depan bangsa dan negara. Namun, semua itu akan kembali normal jika pendidikan kewarganegaraan mulai ditekankan. Tentunya, dimulai dari anak usia dini, pelajar SD, SMP, SMA, bahkan di Perguruan Tinggi seluruh Fakultas. Memberikan penekanan terhadap lembaga pendidikan dan instansi - instansi agar menyelenggarakan upacara Bendera yang dilaksanakan rutin hari Senin dan upacara – upacara Hari Besar Nasional lainnya. Berikan sanksi tegas pada instansi yang tidak melaksanakannya. Seminar, workshop, pelatihan atau diskusi juga akan mengembalikan semangat dan paham kewarganegaraan. Semoga masyarakat tidak lagi enggan mempelajari dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam hal ini Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan.
Ketika masalah pertama sudah terpecahkan janganlah terlena karena, masalah lain ada di depan mata. Tentunya ujian lain akan banyak menerpa untuk menggoyahkan kekuatan kita. Globalisasi merupakan masalah mendunia yang dapat mengubah suatu Negara menjadi Negara lain jika, tidak disikapi secara dewasa. Globalisasi boleh masuk di Negara ini. Namun, identitas harus tetap terjaga. Jadikan saja budaya asing yang masuk ke negara ini sebagai pembelajaran dan tolak ukur untuk mengembangkan budaya sendiri. Bukan malah lebih sibuk mempelajari budaya asing hingga mengabaikan budaya dan identitas sendiri. Apa lagi menghilangkan dan menggantinya dengan budaya luar. Perhatikan budaya – budaya tradisional yang saat ini juga mulai terkikis karena pemudanya tidak lagi tertarik. Ironis sekali jika ada anak seusia SD lebih tahu tentang K-POP dibandingkan dengan budaya asli tanah kelahirannya. Intinya, globalisasi bisa kita ambil baiknya saja, tanpa mengabaikan norma dan identitas bangsa dan negara sendiri demi tetap menjaga semangat nasinalisme.
Keinginan mengangkat semangat nasionalisme melalui empat pilar yaitu, Majelis Wali Amanat, Pimpinan Universitas, Majelis Guru Besar, dan Senat Akademik, hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Jika, empat pilar itu sendiri tidak memiliki semangat nasionalisme yang besar. Langkah ini tergolong bagus, tapi butuh perjuangan besar. Semuanya akan terasa baik jika diawali dari pemimpin yang menjadi kiblat bagi banyak orang. Semoga pula hal itu tidak hanya menjadi opini namun, segera diambil tindakan. Karena, jika dibiarkan berlarut – larut maka Indonesia harus siap kehilangan pemegang tongkat estafet kepemimpinan masa depan. Sebab mereka sudah tidak paham lagi tentang bangsa dan negaranya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar